Chapter Satu
Dia yang Tiba Tiba Muncul
dan
Para Pelawan
Bwoosh!
Seorang anak terdiam setelah sebatang anak panah melesat melewati tepat satu senti disamping kepalanya. Ni orang! Pikir anak itu. Seseorang yang kelihatannya dialah yang menembakkan anak panah tadi datang menghampiri si anak.
“Fayn! Lo OK?” Tanya laki laki itu.
“Get to hell with ‘are you OK’!” jawab Fayn.
“Maaf maaf! Tadi tadi gw ngeliat ada orang di balik situ.” Jawab si laki laki.
“Hah? Serius loh?” Tanya Fayn tiba tiba lupa akan kemarahannya.
“Believe it or not…” jawab si anak sambil mengangkat bahu.
Saling bertatap mata sesaat, mereka tiba tiba melihat ke arah semak semak dan berlari ke arah semak itu. Sesaat sebelum mencapai semak, mereka berhenti. “Menurut lo?” Tanya Fayn. Si anak laki laki mengangkat bahunya lagi. Tapi itu sudah cukup bagi Fayn. Dia memberanikan diri untuk melangkah ke arah sesemakan, lalu mengibaskan semak itu untuk melihat ada apa dibaliknya.
Seorang gadis tergeletak disitu.
Saling bertatapan lagi, mereka seperti tersadar dan mencoba membangunkan si gadis.
“Wuy wuy! Lo ngga papa?” tanya Fayn.
Si gadis membuka matanya dengan lemah, dan mengucapkan satu kata, “tolong” sambil menunjuk ke belakang mereka.
“Eh?” kata si anak laki laki tidak mengerti.
Lalu dua anak itu menoleh ke belakang dan melihat apa yang dari tadi dihindari si gadis.
“O-ow…” kata Fayn.
Seekor Guavenia raksasa berdiri di belakang mereka, menatap si gadis dengan pandangan buas mata merahnya. Hewan itu sepanjang 5 meter, mirip dengan seekor triceratops (di dunia nyata), hanya saja hewan itu hanya memiliki 2 tanduk, dan keduanya mencuat dari atas kepalanya. Jika triceratops adalah hewan herbivora, lain halnya dengan Guavenia, hewan ini adalah salah satu karnivor paling buas yang pernah hidup. Kedua anak itu terlihat senang. Hewan ini langka, dan harga jualnya pasti tinggi. Meskipun hewan ini langka, membunuhnya adalah sesuatu yang legal, karena jarang ada yang bisa membunuhnya.
“Hehehe… Cha~d… we’re rich…” kata Fayn tersenyum.
“Shall we?” Tanya chad sambil mengangkat busurnya.
“Got it.” jawab Fayn mencabut pedang dari sarung di punggungnya.
“Grrraaaaaaoooooooooorrrrrrr!” monster itu mengaum dengan auman yang terdengar dalam radius 2 kilometer, lalu mengangkat kaki depannya sehingga hewan itu hanya berdiri dengan kaki belakangnya. Lalu tiba tiba dia menjatuhkan diri dengan guncangan yang menggetarkan tanah. Tak kuat menjaga keseimbangan, Fayn terduduk, namun Chad yang masih memiliki darah elf tetap berdiri dan membidik hewan itu dengan sempurna. Sedetik kemudian, dia sudah melepaskan anak panah. Anak panah tersebut meluncur tepat ke bola kristal merah yang kelihatannya menyembul dari tulang punggung hewan itu. Bola itu lalu pecah berkeping keping.
“Yup! Red’s down… turquoise and white are next!” teriak Chad gembira.
“Lo bisa ngebidik sebagus itu n masih nyaris mbunuh gue?” teriak Fayn sambil tertawa. “Whoops!” kata Fayn sambil melompat bangun untuk menghindari sabetan ekor si monster yang berduri panjang.
“Hey! Hati hati dengan duri duri itu! Harganya bisa lebih dari 10.000 troumt per dua puluh senti!” teriak Fayn marah.
“Better end this quick…” kata Chad sambil melepaskan dua anak panah sekaligus. Kedua anak panah itu tepat mengarah ke dua bola kristal yang tersisa. Namun pada saat saat terakhir, si Guavenia menoleh dan melepaskan kilatan merah dari dua tanduknya. Kilatan itu menghantam anak panah Chad tepat sebelum ujung logam dari anak panah itu menyentuh kristal terakhir.
“Mu… mustahil!” teriak Chad. “Ngga pernah dibuku manapun tertulis seekor Guavenia memiliki kekuatan sihir!”
“Eh… hei! Yang bener aja deh! Gue ngga bisa nembus pertahanan anti-fisiknya kalo tiga kristal itu belum pecah!” teriak Fayn dari sisi lain lapangan. Si monster menyadari keberadaan Fayn, lalu diapun menoleh kearahnya dan meluncurkan kilatan lagi, kali ini kuning.
“Whooooaaaaaa…..” teriak Fayn sambil menahan pedangnya vertikal. Lalu kilatan itu tepat terbelah menjadi dua oleh pedang Fayn dan hanya menyerempet kedua sisi wajahnya. Darah mengalir dari luka tipis itu.
“Lw ngga papa?” tanya Chad yang masih membidik.
“’s okay! Keep targetting! Gue alihin perhatian ni makhluk!” teriak Fayn sebagai balasan. Setelah mendapatkan kembali keseimbangannya, Fayn berdiri dan berlari ke ujung lain lapangan sambil berteriak, “Kesini monster!”
“All right, here we go!” pikir Chad. Dia menghela nafas dengan tenang, lalu memfokuskan diri pada satu titik: kristal terakhir berwarna putih yang berada di punggung si Guavenia. Sesaat waktu seperti berhenti bagi Chad, semuanya tidak terlihat kecuali kristal putih itu. Lalu dia menarik busurnya agak lebih kuat, dan tanpa keraguan, dia melepaskannya. Anak panah itu meluncur dengan cepat, tanpa kesulitan, anak panah itu mencapai kristal putih si monster.
“ALL RIGHT!” teriak Fayn, lebih percaya diri. Dia mengayunkan pedangnya tepat ke leher si monster yang masih lumpuh akibat pecahnya perlindungannya yang terakhir. Leher si monster putus akibat serangan itu, dan Chad berjalan mendekati mereka.
“Berapa ya kira kira?” tanyanya sambil mengitari si monster.
“Siapa peduli? Yang penting kita kaya…” kata Fayn sambil berpikir. “Hey! Rasanya ada yang kita lupain… apa ya?” kata Fayn lagi.
Lalu mereka tersentak kaget dan berteriak, “Cewek itu!” Dan dengan secepat kilat, Chad mengambil potongan besi kubus yang terlihat memiliki ukiran rune kuno. “Aiz tas vorempecht oir ba skairtan!” ucap Chad. Lalu badan si monster yang sudah terkalahkan bersinar dan seolah tersedot ke dalam kubus kecil itu.
“Tu lo dapetin dari mana?” tanya Fayn sambil terus berlari.
“Dari tukang bakso.” Jawab Chad sembarangan, seakan akan, berlari menyeimbangi Fayn.
“Sembarangan.” Kata Fayn.
“Emang….” jawab Chad lagi lagi tanpa berpikir.
“Ngapa sih loe?” tanya Fayn.
“Cewe itu…” jawab Chad.
“Kenapa?” desak Fayn.
“Gw rasa… dia juga dari bangsa gw.” Jawab Chad serius.
“Maksud loe… bangsa elf?” kata Fayn bingung.
Chad tidak menjawab namun hanya mengangguk singkat. Mereka mencapai tempat si gadis dibaringkan dengan cukup cepat mengingat mereka cukup jauh dibawa oleh monster itu tadi. Mereka segera menemukan si gadis, masih terkulai lemah tak berdaya. Fayn memperhatikan kupingnya, ngga runcing kok… pikirnya. Lalu mereka mengangkat si gadis ke kuda mereka lalu membawanya ke rumah untuk dirawat.
***
“Tapi itu mustahil!” teriak Fayn ketika mereka sedang sarapan 3 pagi berikutnya.
“Ya! Itu mustahil bibi Audrey!” Kata Chad ikut ikutan.
“Hey hey… stop yelling at me you two! Bibi juga awalnya tidak percaya! Namun dia memiliki lambang kerajaan.” Jawab bibi Audrey mengatasi tingginya nada bicara mereka berdua.
“Tunggu sebentar!” kata Chad dengan wajah seakan akan menyadari sesuatu lalu pergi beranjak dari kursinya meninggalkan sepotong roti selai blueberrynya. Sedetik kemudian dia kembali, “i’ll take this with me…” katanya sambil kembali berlari ke arah kamarnya. Fayn melanjutkan makan dalam diam, sedangkan bibi Audrey melanjutkan mencuci piring.
Sepuluh menit kemudian, mereka mendengar suara berat sesuatu yang jatuh dan sedetik kemudian mereka melihat Chad berlari ke arah mereka.
“Look at this.” Katanya dengan nafas tersengal.
“Eeee? Apa ini?” Tanya bibi Audrey yang sudah bergabung untuk sarapan.
“Kliping… hah… 17 tahun yang lalu…” kata Chad lagi, mengambil segelas besar air dan menumpahkan semuanya kedalam mulutnya.
Frompt town, 18 september tahun 10 periode ke-28
Telah dikonfirmasikan akan kelahiran pewaris mahkota kerajaan Burotelein, putri Glaedhiana alias Elizabeth XXI. Kelahiran sang putri dinyatakan mengejutkan, karena warga negara Burotelein tidak ada yang tahu mengenai kehamilan sang ratu. Sang ratu sendiri selama 7 bulan belakangan dinyatakan tidak pernah muncul kehadapan public. Saat media mempertanyakan hal ini kepada pihak kerajaan, juru bicara kerajaan, Andrew Mathetamn, menyatakan bahwa sang ratu dalam keadaan baik baik saja. Berdasarkan sumber yang bisa dipercaya, 7 bulan yang lalu ratu dipindahkan dari istana ke rumah penyihir top Burotelein, sir Emer. Alasan dari pemindahan sang ratu ini sudah sepastinya adalah alasan keamanan dari sang putri yang masih berada di kandungan sang ratu. Karena, seperti diketahui, kekuatan sang penyihir setara dengan kekuatan 1000 pasukan berkuda.
Kelahiran sang putri, seperti yang diberitakan, adalah 10 hari yang lalu. Tepat pada hari dimana event An atair esinda terjadi. Saat ini wajah dan segala hal lain tentang sang putri tidak diketahui. Selain tanggal lahirnya, pihak kerajaan hanya memberi tahu satu hal yang cukup mengejutkan, yaitu bahwa sang putri telah memiliki lambang kerajaan. Meskipun hal ini agak cepat, karena biasanya anggota keluarga raja akan mendapatkan lambang kerajaannya setelah mereka berumur 17 tahun atau lebih, hal ini memang diharapkan dari keluarga raja yang akan melawan dan mengakhiri perang ini. Selain itu tidak ada kabar lain yang diberikan oleh pihak kerajaan.
“An atair esinda? Apa itu?” tanya Fayn.
“Ngga tau… apaan sih itu bi?” tanya Chad.
“Ah… iya… hari itu semuanya menjadi gelap seketika. Dua kerajaan tetangga dikabarkan hancur, dua pilar putih terlihat dari seluruh negri di dua kerajaan itu, dan hari itulah, beberapa jam setelah itu, aku menemukan kalian.” Jawab bibi Audrey.
“Tapi apa arti dari An atair resinda itu sendiri?” tanya Fayn.
“Dua pilar putih…” kata Chad, absent-mindedly.
“Eh?” kata bibi Audrey dan Fayn.
“Gue baru inget, dalem bahasa kuno, An atair resinda artinya dua pilar putih.” Kata Chad lagi, masih terlihat melamun.
“Kok lw bisa bahasa kuno?” tanya Fayn.
“Gue nemuin kamus bahasa kuno di gudang belakang, trus gue pelajarin deh. Bukannya gue dah pernah bilang yah?” jawab Chad, masih tidak fokus.
“Oh iya… lw pernah bi…” kata Fayn.
“Wait a sec! Where did you find that book again Chad?” tanya bibi Audrey dengan muka serius.
“Huh? Kenapa memang bi?” tanya Chad, kaget dan tersadar dari tampang melamunnya.
“Dimana?” tanya bibi Audrey lebih mendesak lagi.
“Di, didalem kotak berukiran bagus di bagian paling belakang gudang…” jawab Chad terbata-bata.
“Impossible…” bisik bibi Audrey.
“Possible…” jawab Chad.
Bibi Audrey agak mendelik kepadanya ketika Chad mengucapkan kata kata itu, namun hanya berkata, “wait here.” Mereka berdua saling bertatapan. I wonder what will happen… pikir mereka berdua.
Tak berapa lama kemudian, bibi Audrey kembali membawa sebuah kotak panjang, tipis, dan berdebu.
“Fuh!” tiup bibi Audrey berusaha menyingkirkan paling tidak selapis debu.
“Uhuk! Bibi! Apa yang bibi lakukan? Paling tidak jangan lakukan itu di meja makan!” protes Chad.
“Maaf, maaf… oh!” kata bibi Audrey.
“Ke, kenapa bi?” tanya Fayn.
“Lihat ini….” kata bibi Aufrey sambil mengulurkan kotak tipis itu. Didalamnya ada sebatang kayu tipis berukiran huruf rune. Kelihatannya itu adalah sebatang tongkat sihir. Dibagian pangkal dari tongkat sihir itu ada bola kristal berwarna hijau. Bola itu bersinar.
“Tongkat yang memilih pemegangnya, bukan sebaliknya.” Jelas bibi Audrey, “tongkat ini dibuat oleh pembuat tongkat yang sama yang dipakai oleh sir Emer. Dan perlu diketahui, dia hanya membuat lima tongkat di dunia.”
“Wooooow…” kagum dua anak laki laki yang mengelilingi si bibi.
“Nah, tongkat ini ada hubungannya dengan kamus bahasa kuno dan kotak indah yang kau temukan Chad.” Lanjut bibi Audrey.
“Eh?” kata Chad kaget.
“Orang yang bisa memegang tongkat ini adalah orang yang punya kemampuan sihir besar, tandanya adalah bola hijau yang bersinar ini, dan dipilih oleh tongkat ini, tanda tandanya adalah terbukanya kotak itu.” Kata bibi Audrey dalam satu tarikan nafas.
“Tapi kotak itu bisa terbuka kepada siapa saja!” bantah Fayn.
“Tidak, sayang sekali tidak… hanya ada satu orang yang bisa membuka kotak itu dalam 1 generasi.” Lanjut bibi Audrey, “Chad, ambil kotak itu, bawa kemari, lalu tutup lagi kotaknya.” Mendengar perintah dari bibi Audrey, Chad bangkit dengan malas dan berjalan lunglai ke kamarnya.
“Chad! Could move a little bit more quick!” Teriak bibi Audrey tak sabar.
“This is the fastest…” jawab Chad dari kamar.
“You are an elf!” teriak bibi Audrey lagi.
I’am… pikir Chad. Setelah menemukan kotak kayu berukiran itu, dia membawanya lagi ke meja makan. Melompati tangga yang menghubungkan lubang kamarnya dan ruangan utama, dia mendarat dengan sempurna. Elf… pikir Fayn.
“Here you go, a sealed box.” Kata Chad seakan akan dia adalah seorang koki yang baru saja menghidangkan makanan terbaiknya. Fayn memandangi kotak itu. Ngga kekunci kok… pikirnya. Bibi Audrey mengulurkan tangan meminta kotak itu. Chad memberikannya dengan sukarela. Saat dipegang bibi Audrey, kotak itu bersinar kebiruan, ukiran yang terlihat seperti akar akar pohon itu bercahaya keemasan dan bergerak. Jika tadi ukiran itu bukan apa apa, sekarang ukiran berbentuk akar itu membuat kotak kayu itu benar benar kotak, tidak ada tutup atau apapun.
“See? That’s what will happen if people other than the owner hold it.” Kata bibi Audrey.
“Huuuh! Let me get a grip of that damn thing.” Kata Fayn.
Begitu tangan Fayn menyentuh kotak itu, seketika kotak itu bereaksi. Ukiran yang menyegelnya tidak terlihat akan terbuka, tapi seakan terbuat dari lilin, kotak itu menggeliat dan membentuk sesuatu yang lain. Seakan akan merapatkan diri, ukurannya terus mengecil, kerapatan partikel dari benda itu semakin tinggi. Saat masih dalam bentuk kotak, kotak itu sudah luar biasa keras. Saat dalam bentuk yang menjadi semakin kecil ini, bahkan baju besi paling kuat saja mungkin kalah kekerasannya. Benda itu semakin mengecil sampai seukuran cincin. Kedua sisinya bersinar lebih terang di satu titik, sinar itu memanjang, sampai membentuk rantai mini. Setelah itu, benda itu diam. Fayn mengamati benda itu, benda itu bulat, sangat ringan, dengan tonjolan di bagian tengahnya, huruf rune mengitari tonjolan itu, rantainya telah berubah warna dan kelihatannya sudah merubah partikel diri sendiri dari elemen kayu menjadi logam berwarna keemasan.
Sementara mereka bertiga hanya memikirkan benda itu dari tadi, mereka tidak menyadari bahwa langit telah gelap oleh awan tebal, sesuatu yang lain bersinar terang. Tanpa mereka sadari, tongkat itu sudah tidak ada lagi didalam kotaknya, bola hijaunya bersinar terang dan tongkat itu melayang vertikal di udara. Mereka bertiga menoleh ke belakang. Chad, seakan sudah menjadi panggilan alam, mendekati tongkat itu dan memegangnya. Semburat kehijauan keluar dari ujung tongkat itu dan memenuhi ruangan ketika Chad menggenggam pangkal tongkat itu dengan tangannya.
“Selamat datang para pelawan.” Kata suara dibelakang mereka.